Senin, 12 Januari 2015

Curhat Kebangsaan.


















Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar. 
Jangan memandang lemah bangsa ini. 
Permasalahan-permasalahan memang merundung dan menggerus setiap arah kebijakan. 
Demoralisasi meluluh lantahkan politik yang suci .
Indonesia tidak hanya dilanda masalah dan musibah. 
Terlepas dari itu, putra-putri bangsa adalah generasi yang haus akan prestasi. 
Baik dalam ranah regional, nasional maupun internasional.
Mengembangkan bakat merupakan salah satu kunci, tapi belajar dan terus belajar adalah suatu keharusan"

Indonesia akan tetap maju dan terus maju.
Hal itu ditentukan oleh setiap pemudanya pada hari ini.



Tulisanku dan penulisanku

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Sabtu, 10 Januari 2015

Kritik...

Mitos merupakan bagian dari mistisisme ?

Dunia perlambangan hanya tempat persinggahan.
Satu langkah dalam banyak tahapan.
Kebenaran mutlak ada di mana ?
Relatif ada di mana ?

Mitos bagaikan tangga yang menjulang tinggi .
Menawarkan skeptitisme..
Rasionalitas dalam proporsionalitas.
Hiruk- pikuk Intelektual pun lengah.

Jalan itu terlalu gelap bagi positivistik
Namun,...
Lucu....

Kadang dia yang menolak
Malah dia yang menerima
Bahkan dia sendiri Mengaplikasikannya.


Kritik !!!

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Pembohongan Sejarah

PEMBOHONGAN sejarah di Indonesia
Buat Murid dan Guru sejarah di Indonesia.

Informasi mengenai Indonesia pernah di jajah adalah sesuatu hal yang TIDAK BENAR.

Katanya Indonesia di Jajah selama 3 setengah abad.
Atau selam 350 Tahun.

Kalau dilakukan penilaian secara komparatif dengan negara-negara yang terjajah lainnya di dunia... maka bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa INDONESIA adalah negara terjajah paling lama di dunia.

Adalah pembohongan secara intelektual yang terjadi di dunia pendidikan. 

"Indonesia kan resmi menjadi negara pada tanggal 17 agustus 1945,
sedangkan penjajahan itu ada sebelum Indonesia merdeka,
atau resmi menjadi suatu negara.
JELAS !
informasi itu TIDAK BENAR.
Informasi tengtang Indonesia yang telah megalamai penjajahan selama 350 tahun.

Jadi yang sebenar-benarnya,
Negara INDONESIA tidak pernah dijajah  !
oleh BELANDA....
Portugis....
Jepang ....
___________________

Yang terjajah itu, Kerajaan-kerajaan dulu yang menghuni Bumi Nusantara.
Terakhir: Jangan permalukan Negara kita ini, hanya karena Informasi sejarah yang keliru bahkan bisa saya dikatakan SALAH.

"Belajar sejarah dan mengamalkan sejarah"

Arwah abadi seorang Penulis".

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Jumat, 09 Januari 2015

UUD 1945 in English

UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 (dikenal juga sebagai ‘Mukadimah’ atau Preamble) merupakan tulisan pembuka dari UUD 1945. Teks pembukaan ini tidak mengalami perubahan dalam proses Amandemen UUD 1945. Tidak dilakukannya perubahan terhadap Pembukaan ini dapat dipahami karena beberapa alasan:

Pembukaan UUD 1945 mencantumkan landasan (historis) berdirinya Republik Indonesia, yaitu kemerdekaan, yang menjadi hak segala bangsa.

Pembukaan UUD 1945 mengsahkan pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat.

Pembukaan UUD 1945 mencantumkan tujuan negara Republik Indonesia.

Pembukaan UUD 1945 mencantumkan bahwa Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat (menegaskan politik demokrasi di Indonesia).

Pembukaan UUD 1945 mencantumkan landasan idiil kehidupan berbangsa dan bernegara warga negara Indonesia, yaitu Pancasila, yang dijabarkan di Alinea 4.

Naskah Bahasa Indonesia:
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
***
Naskah Bahasa Inggris/English Translation
1945 CONSTITUTION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
PREAMBLE
Whereas independence is a genuine right of all nations and any form of alien occupation should thus be erased from the earth as not in conformity with humanity and justice,
Whereas the struggle of the Indonesian independence movement has reached the blissful point of leading the Indonesian people safely and well before the monumental gate of an independent Indonesian State which shall be free, united, sovereign, just and prosperous,
By the grace of God Almighty and urged by the lofty aspiration to exist as a free nation,
Now therefore, the people of Indonesia declare herewith their independence,
Pursuant to which, in order to form a Government of the State of Indonesia that shall protect the whole people of Indonesia and the entire homeland of Indonesia, and in order to advance general prosperity, to develop the nation’s intellectual life, and to contribute to the implementation of a world order based on freedom, lasting peace and social justice, Indonesia’s National Independence shall be laid down in a Constitution of the State of Indonesia, which is to be established as the State of the Republic of Indonesia with sovereignty of the people and based on the belief in the One and Only God, on just and civilized humanity, on the unity of Indonesia and on democratic rule that is guided by the strength of wisdom resulting from deliberation / representation, so as to realize social justice for all the people of Indonesia.


Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar


PANCASILA

PANCASILA

{1} Belief in the one supreme God
Ketuhanan yang maha esa
{2} Just and civilised humanity
Kemanusiaan yang adil dan beradab
{3} The unity of Indonesia
Persatuan Indonesia
{4} Democracy led by the wisdom of deliberations among representatives
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
{5} Social justice for the whole of the people of Indonesia
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia



Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Jumat, 02 Januari 2015

Ambiguitas Pluralisme

Ambiguitas Pluralisme
Ambiguitas Pluralisme"
Pengembaraanku telah ku jajaki dalam berbagai dimensi
Waktu yang telah ku bunuh
Tapak dan jejak kaki yang kutinggalkan
Begitu pula fakta sosial yang kutelanjangi
Potret diri ini yang selalu terekam
Semoga namaku terpatri di lembaran sejarah
Yang bukan menjadi pemenangan
Tapi perenungan dan kenangan.

Ketika bayang-bayang menembus alat optik ini
Mengalirlah derasnya makna yang tak berkecukupan
Bertanya dan terus bertanya  !
Goresan tinta yang tergores dan tergeletak
Di lantai dan rak-rak
Benda ilmu itu adalah air manakala kehausan
di balik lambang pengetahuan.
Benda itu dapat menjadi solusi.
Tapi, ketika masyrakat sedang melebar
Gonjang ganjing mewarnai kehidupan
Lalu berada dalam penjarahan dan dikotomi universalitas
Maka silahkan tunggu konsekuensi logisnya.

Disparitas multidimensional
Kita katakan,....
Kemajemukan,
Keberagaman,
Pluralisme.

Itulah konsepsional ambiguitas
Dalam akar-akar kesosialan.
Kita dipuja,
dan disanjung,
Letak sentralitasnya adalah budaya.
Kegembiraan mengiang mendayu-dayu
Mendengar lantunan rinik dan rintik kata pujian
Negara tetangga,
Negara Imperialis,
Negara liberalis,
Negara Kapitalis,
Negara Komunis,
Negara sosialis,
Negara Islamis,,

Sebenarnya kita harus sadar hakikat hidup insani itu
Bagaikan langkah kaki yang tak pernah menentu.
Dunia itu seperti roda yang berputar,
Kadang cepat dan kadang lambat
terkadang kita di atas lalu kita turun lagi ke bawah
Bangsa lain melirik kekayaan budaya kita
Tak ayal kalau ada yang mengklaim,
yang mengatakan bahwa ini milik saya.
Garang !
Berani sekali mengatakn itu.

Harus tetap over protektif
Akan Makna pluralisme dan tetap berada dalam
titik kordinat keseimbangan.


Potret Indonesia.

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum Alauddin Makassar
01-01 -  10-03-2014

Iman: Rasio-Empirisisme

Konsepsi Mengenai Iman: Rasio-Empirisisme










Literasi: Theologis-Fhilosopies


Febri Ramadhani
Mahasiswa Hukum UIN Alauddin Makassar

“Konsepsi Mengenai Iman; Rasio- Empirisime”

_Andai kata kuda memiliki tangan dan Dapat menukis,
maka kuda akan melukis dewa-dewa seperti kuda.
XENOPHANES
( sekitar 560-478 SM)

Dalam beragama, apakah beriman dulu atau berilmu dulu ?
Atau berilmu dulu baru beriman ?
(Febri Ramaddhani)


Adalah Perdebatan sengit, diskursus mengenai Iman dan rasio. Kadangkala ada orang yang meramu konsep secara sepihak.Menilai manusia hanya dalam korelasi mengenai Rasio, begitu pula sebaliknya. Iman dan rasio merupakan disparitas yang mutlak. Iman relasinya adalah batiniah, sedangkan rasio adalh penalaran logis dan betuknya: silogisme(akal). Atau dasar-dasar kepercayan dalam beragama, kepercayaan itu yang bermain adalah rasio dan keyakinan itu adalah rasa (hati).

Dalam kajian filsafat semua yang ada di dunia ini adalah tajalli-tajali tuhan sebagai bukti eksistensinya. Jelasnya ada hukum kauliyah dan hukum kauniyah yang menelaskan Eksistensi Tuhan.Iman menggali hal-hal yang berada di luar indra. Dan indra selalu mengutarakan diri mengenai penalaran logis. Pemahaman iman Seringkali tidak dimengerti oleh Indra. Memahami sang prima Causa (argumen Aristoteles) haruslah dengan Iman  yang totalitas. Bukan malah Indra. Karena indra hanyalah memberikan alamat, sekaligus mengantarkan  di depan pintu sebab itu.

Pendiri empirisisme: John locke (filsuf) pernah mengatakan bahwa Agama tidak boleh bertengtangan dengan rasio. Tapi hal yang wajar kalau rasio Alamiah  menentang agama, karena akal adalah kemampuan yang terbatas ! Iman pada dasarnya mengantarkan kita menyingkap hal-hal yang transendental, tak tercakapkan dengan level tertinggi dari pada rasio.

Miasalnya: Tasawwuf dalam Islam (iman dan rasio),  Filasafat dalam Tradisi Barat mengutamakan rasio, sehingga banyak dari  kalangan mereka yang atheisme. Dengan proporsi dan postulat bahwa orang Barat mayoritas mengutamakan rasio dalam berbagai hal, dan itulah sebabnya kita bagi orang Timur sering menganggapnya sebagai sekuler dan liberal dalam berpikir.

Sebenarnya antara Iman dan rasio jika ditelisik  lebih dalam, dua makna esensial manusia yang tapi berbeda secara alamiah. Orang-orang yang beriman lebih tinggi derajatnya dari pada orang orang berakal semata. Akan tetapi kalau dilihat dari era sekarang banyak sekali orang yang berkostum iman melainkan pencitraan diri saja. Begitu banyak orang mengaku beriman tapi tidak sesuai dengan kadar iman yang sesungguhnya.

Kita akui bahwa untuk menganilisis sesuatu, apakah baik atau benar, tentunya menggunakan rasio atau  akal sehat. Kadang orang keliru tengtang defenisi mengenai rasionalisasi dan rasionalisme, padahal keduanya itu adalah hal yang berbeda pada proses introduksinya. Jujur saja, saya dan mungkin banyak orang lain di luar sana, adalah salah satu yang sangan membenci yang namanya Rasionalisme-Fanatisme. Karena para penyokong paham ini, tidak membenarkan perihal, yang  ada di eksternal akal. Perlu di catat, kalau kebenaran ilmiah tidak saja terletak pada konsep Rasio. Ada yang terselimpung dalam hal eksternal tapi dianggap ekstentrik kaum rasionalisme. Seperti Berbicara tengtang keimanan dalam suatu agama.

Sesunggunya jikalaulah kita menomorsatukan rasio dan mendiskreditkan kebenaran-kebenaran yang diluar rasio, maka barang tentu kita memparsialkan diri sebagai orang yang egois dan  masih buta dalm konsep mengenai mana semestinya haqq  maupun batil .Mengenai rasionalisasi itulah yang banyak disukai para pemikir kontemporer. Rasionalaisasi adalah mengedepankan metode analisis, dan mengmbangkan apa yang dikaji itu. Patron-patron yang digunakan sangatlah terbedakan dengan rasonalisme, karena tidak tunduk pada sebuah konsep yang pasti, dan  akan tetapi belum tentu itu benar atau bahkan salah. Dengan rasionalisasi tentunya lebih terbuka dalam menanggapi asumsi-asumsi miring, yang senangtiasa mengundang akal untuk berpikir. Apa yang disebut Meta-pysic  akal takkan menyerah untuk merasionalisasikan. Akan ada proliferasi makna, dan kemajuan analisis. Tentunya metode-metode filoshopis yang digunakan untuk menyingkap hal itu. Bagi kaum empirikal hal yang tidak mungkin dipercayai, bahkan saking mirisnya, kalangan mereka melemparkan kritik cadas dan seolah-olah menyalahkan segalanya.

Mengatakan: apa yang diungkapkan oleh kaum fhilosopies  adalah proposisi yang tak bermakna (the propotition thats not to the meaning) atau nir-arti. Dan perbendarahan-perbendarahan katanya hanya terjebak pada dunia utopis. Dengan alasan(kaum empiirkal;sperti:Davi hume,john stuart mill), karena yang mereka katakan tak terindrai. Pertanyaan kaum fhilosospis(feedback) , apakah semua yang bermakna itu harus terindrai pada dasarnya ?  Kan, tidak !

Jadi kalau begitu apakah  yang terbatas oleh indra pada umunya harus dikatakan tidak eksis ataukah tidak bermakna ?

Disinilah kaum empirisisme lumpuh dalam penalarannya. Mengatakan lagi kalau sumber pokok(primer) pengetahuan manusia ada pada pengalaman. Tapi etisnya pengalaman tidak  pernah sempurna mengatasi pengetahuan-pengetahuan yang terlupakan, dan bahkan diluar pengalaman itupun dapat mentransformasikan hal-hal mengenai otoritas pengetahuan primer maupun sekunder. Terkait lagi tengtang fitrah, dalam bentuk pengetahuan terlahir, apakah pada dasarnya manusia sejak lahir memang dibekali pengetahuan?
Jawabannya>>>.......

Allah berfirman:  Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian, kalian tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan ia menjadikan bagi  kalian pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.
(Q.S. 16:78)