Senin, 26 Januari 2015

KESERAKAHAN

Keserakahan

Manusia adalah makhluk yang mempunyai hasrat untuk memiliki....
Memiliki sesuatu....
Tidak bisa dipungkiri,
Bahwa ada sebagian manusia yang  menginginkan segalanya...
Segalanya untuk dimiliki...
Akhirnya apa ?
Segala cara digunakan untuk memiliki....
Memiliki segala sesuatu.
Dengan cara apapun
Misalnya saja,
Uang.....
Adalah primadona manusia di dunia ini,
Primadona bagi manusia sekarang.
Mereka yang menginginkan sesuatu dengan segala cara...
Cara haram....
Cara licik....
Cara memfitnah....
Menggelapkan....
Menyelundupkan....
Membohongi....
Atau yang trending topic....
Adalah dengan cara korupsi.
Saling menjatuhkan....
Menjatuhkan tanpa rasa kemanusiaan
Menjatuhkan tanpa rasio kemanusiaan.
Diperbudak atas dasar Kemunafikan.
Membuat topeng halal dibalik keharaman sesuatu....
Hipokrit....
itulah namanya !
Akhirnya mereka mendapatkan.....
Segalanya didapatkan karena nafsu...
Nafsu kemanusiaannya yang haram.
Sehingga itulah saya katakan  manusia SERAKAH.
Yah....
Manusia SERAKAH.
Bahasa sederhana,
Diberikan HATI mereka minta JANTUNG.
Bahkan meminta nyawa....
Nyawa keserakahan.

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

APATIS

APATIS (tidak peduli dan masa bodoh).

Apa yang terjadi kawan...?
Ah....
Ada apa dengan negara ?
Ah....
Politik itu kotor katanya ?
Ah....
Bagaimana penegakan hukum ? Baik atau tidak ?
Ah...
Bagaimana solusimu terhadap permasalahan di negara ini ?
Ah...
Bagaimana kau ini ? 
Apa  pendapatmu ?
Apa sajalah menurutmu ?
Ah...
Ah...
Ah...
Nyaman....
Aku nyman....
AKU TAK PEDULI.
Bodoh amat...!!!

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Aktivis Hipokrit !

Aktivis hipokrit !

Nafas terengah-engah
lekas mati untuk saat ini
esok mungkin tidak lagi.
Mati suri adalah istilah dalam Islam.
Tapi tidak untuk yang lain
jiwa mereka yang dulu berkoar-koar
menyuarakan multilitas suara-suara....
kebenaran,
Keadilan,
Kesetaraan,
Kesejahtraan,
sekarang membisu.
Bisu ?
Ya...bisu.
tak bersuara
Mungkin saja dia takut.
Mungkin saja dia ragu.
Mungkin saja dia sudah amnesia sosial.
Atau...?
Ah...mungkin saja.
Hanya desingan-desingan hening terdengar
kata-kata indah dan begitu puitis
yang dulu terangkai
ahh...kini tak ada lagi
Dulu....
Suara nyaring mengusik pejalan kaki
Keringat bercucuran di tengah jalan
Bendera perjuangan terpampang dengan jelas.
Keringatmu tidak lagi murni sebagai keringat,
Tapi telah bercampur dengan darah....
Kau yang dulu ingin menegakkan keadilan
Sekarang megkhianat dan berbalik arah
Kau melanggar keadilan
Kau melabrak keadilan
Sikapmu acuh tak acuh
Masa bodoh....
Tidak peduli lagi terhadap yang pernah kau bela.
Atau Mereka mungkin....?
Mungkin saja sudah enak.
Mungkin saja sudah puas.
Atau...?
Mendapatkan surga yang dulu mereka tentang.
Mereka caci maki.
Dan lain sebagainya.
Pokoknya....
Ada aktivis hipokrit !!!

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

PENGANGGURAN KARENA TERABAIKAN

PENGANGGURAN KARENA TERABAIKAN

Negara harusnya menjamin kelangsungan hidup setiap warga negaranya.
Tidak ada lagi kematian karena kelaparan.
Kelaparan karena tidak makan.
Tidak makan karena tidak punya pekerjaan.
Ujungnya adalah pengangguran.
Itulah esensi dan subtansi pengangguran.
Pengangguran karena terabaikan.
Negara harus menyediakan lapangan pekerjaan.
Itu sudah cukup !
Cukup untuk mengatasi pengangguran.
Negara tidak boleh lagi abai....
Negara harus menjamin.
Sekali lagi menjamin.
Menjamin kesejahtraan dan kemakmuran rakyat.
Menumpaskan pengangguran, bukan menambah pengangguran.
Apa dan bagaimana caranya...?
Tidak lain dan tidak bukan....
Berikan PEKERJAAN.

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

MENJADI PEMBERONTAK DI NEGERI DONGENG

MENJADI PEMBERONTAK DI NEGERI DONGENG
Karya : Afiq Rafif Rabani Sukri

Aku ingin menjadi pemberontak, 
Pemberontakan kecil-kecilan
Karena tangan ku tak cukup kuat
Untuk menghantam ketidakadilan
Aku ingin membakar api revolusi, 
revolusi kata-kata dan tulisan-tulisan
Sebab suara ku tak cukup nyaring
untuk meneriaki kesewenang – wenangan
Angin kencang
Yang dulu menghembuskan badai perubahan
Kini raib membentur dinding kekuasaan....
Gelombang dahsyat
Yang dulu mengirimkan air bah perlawanan
Kini lenyap diserap tanah kerakusan
Sudah makmur kah negeriku ? kuharap
Sudah sejahterakah rakyatnya ? semoga
Tapi saat kusaksikan, 
masih ada pemulung
Yang mengorek-ngorek sampah
Demi mengais nafkah kehidupan
sementara kaum terhormat
membuang-buang uangnya
ditempat-tempat pelesiran
masih ada seorang ibu
yang karena mencuri buah kapuk
demi menjamin kehidupan anak-anaknya
harus dipenjarakan,
masih banyak TKI yang dihukum mati
karena melawan majikan yang ingin mendzoliminya
sementara ratu pencuri
membangun istananya
dibalik benteng-benteng penjara
tiap malam bisa bebas keluyuran
dan Raja raja pencuri
bebas berwisata ke luar negeri
dan bahkan mengindahkan panggilan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
oh inilah ironi negeriku, 
sebuah negeri dongeng
akan kehebatan masa lalu
oh aku muak, aku ingin muntah, 
memuntahkan lahar amarah
oh aku ingin berteriak, 
menumpahkan caci maki dan sumpah serapah
oh kepada siapa lagi aku mesti berkeluh kesah
sedangkan kodok, kecoak, kadal, semut
dan jangkrik pun enggan bersuara….


Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Minggu, 18 Januari 2015

Aku dan Kota Besar

Aku dan Kota besar.

Pada hari itu aku berjalan menuju kota....
Kota yang amat ramai....
Tapi BISING.
Banyak POLUSI...
Pertamanya...Niat dan asah dapat menjadi orang kota.
Ternyata TIDAK !
TIDAK !
Kota besar bukan tempat yang nyaman untuk orang-orang dari kampung.
Ya... BUKAN.
Tempat yang hanya nyaman untuk orang-orang kota, Toh saja.
Orang yang serba mewah.
Perilaku hidup hedonis dll...
Begitu banyaknya permasalahan di kota besar....
Moral....
Etika.....
Kriminal....
Dll....
Semua itu berawal dari faktor pengaruh budaya dan kebiasaan masyarakat kota.
Individualisme bukan kolektivisme.
Heterogenitas bukan homogenitas.
Kosmopolitan dan Metropolitan
Belum lagi proses internalisasi budaya yang kebablasan.....
Westwernisasi (kebarat-baratan)
Globalisasi budaya,
Masyarakat yang cenderung komsumtif bukan produktif.
Itulah realitas.
Aku dan Kota besar.

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar.

Selasa, 13 Januari 2015

Jeritan Negeri Menunggangi Tangis Rakyat

"Jeritan Negeri Menunggangi Tangis Rakyat"
Media massa mengusik telinga ini
Seolah tak jemu.
Seorang Tuna rungu memang tak mendengar
alangkah sedihnya mereka.
Tapi lebih sedih kita yang normal,
tak seperti mereka yang abnormal.
Kami mendengar, melihat , merasakan.
Problema negeri ini tanggungan kita
Sebagai generasi kader Penerus bangsa.

Pamflet kebatilan yang terus dipublikasikan kepada Rakyatnya, membuatnya kapok bergeming.
Begitu dangkalnya sumur kehidupan di negeri ini.
Tapi kesejahtraan dan keadilan terlalu dalam untuk ditemui
Tapi, ingat....
Tidak semuanya yaahhhh.....

Mengafirmasikan kebenaran adalah suatu keharusan.
kebenaran harusnya ditempatkan pada kebenaran.
Bukan malah sebaliknya.

Analogi sederhana,...
Dari jeritan itu, tak lain" Jangkitan Penyakit.
Bakteri, kuman, dan virus yang menjangkit Bumi Nusantaraku
Tikus-tikus kenyang, perut buncit bertopeng Hipokrit
menjadi term-term bukti Eksistensinya sebagai Troble Maker.
Korupsi layaknya Gurita yang menggrogoti kulit-kulit mulusnya
Aku sebagai Rakyat : Mengakui, Kita bangsa yang LEMAH disamping kita bangsa yang besar.

Itu FAKTA !!!

Ku bukannya pesimistis bahkan skeptis posesif.
Melainkan realitas yang terungkap secara Gamblang.
Pengadilan ditelanjangi sehingga tak berbusana
Malu, tapi mereka tak malu.

Derita hukum yang dihukum dan terhukum
Ya...Tuhan berikan negara kami Hidayah.
Kabut gelap dan Hitam pekat menyelimuti
Mata ini Rabun tak melihat dengan sempurna
Katarak mata ini,
kelopak dan retina mata sudah tebal akan spekulasi
jelasnya ada yang Hipokrit di dalam.
Kalau Begitu, beri kami kacamata
Untuk membaca dengan jelas
jangan sampai ada yang tersisa juga tertutupi
Tradisi dan tragedi Negeriku yang malang.

Pintaku:

Para Yang kami tuakan dan percayakan
Kepercayaan untuk melabuhkan negeri ini ke tempat tujuan
Jangan kandaskan,
Jangan stagnansikan,
jangan ganggu nahkodanya.
Duduk dengan tenang
Dan tetap chek and balance sesama penumpang
Relasi Harmonis tetap dijaga.

Jadikan jiwamu seperti Tuhan dalam dalam diri manusia
dan Manusia dalam diri Tuhan.

Febri Ramadhani
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar